Makalah Tentang Chiller
Indrapbgrembang.blogspot.com
![]() |
| FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS PAMULANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Definisi Pengkondisian Udara
Sistem
pengkondisian udara adalah suatu proses mendinginkan atau memanaskan udara
sehingga dapat mencapai temperatur dan kelembaban yang sesuai dengan kondisi
yang dipersyaratkan dari suatu ruangan tertentu.Pengkondisian
udara secara lengkap meliputi pemanasan (heating),
pendinginan (cooling), pengaturan
kelembaban (humidifying dan dehumidifying), dan pertukaran udara (ventilating). Sedangkan pengkondisian
udara skala kecil umumnya dilakukan tanpa mengikutsertakan pengaturan
kelembaban. Pengkondisian udara saat ini telah menjadi standard bangunan, public ataupun privat dalam berbagai skala, diberbagai penjuru dunia. Untuk daerah
yang mengalami empat musim, terjadi perubahan fungsi pengkondisian udara dari
pemanasan (heating) pada saat musim
dingin dan menjadi pendinginan (cooling)
pada saat musim panas. Sedangkan pada daerah khatulistiwa seperti Indonesia,
pada umumnya fungsi pengkondisian udara adalah pada mode pendinginan saja.
Mesin pengkondisian udara yang bekerja sebagai pendingin biasanya disebut
sebagai AC (Air Conditioning),
sedangkan pada saat bekerja sebagai pemanas disebut sebagai pompa kalor (heat pump).
Sistem tata udara pada umumnya dibagi
menjadi tiga, di antaranya:
1. Sistem tata udara untuk kenyamanan
Mengkondisikan
udara dari ruangan untuk memberikan kenyamanan bagi orang yang melakukan
kegiatan.
2. Sistem tata udara untuk industri
Mengkondisikan
udara dari ruangan karena diperlukan oleh proses bahan, peralatan dan barang
yang ada di dalamnya.
3. Sistem tata udara untuk penggunaan
khusus
Mengkondisikan
udara dari ruangan karena diperlukan untuk kondisi khusus, seperti ruang bedah,
ruang optik, ruang ICU, ruang bersih, ruang komputer dan lain - lain.
Sasaran
dari pengkondisian udara adalah agar temperatur, kelembaban, kebersihan dan
distribusi udara dalam ruangan dapat dipertahankan pada tingkat keadaan yang
diinginkan. Untuk mencapai hal tersebut, dapat dirancang dan digunakan beberapa
macam sistem pendinginan, pemanasan, dan ventilasi yang sesuai.
Untuk mengkondisikan udara gedung-gedung besar AC
biasa mungkin sudah tidak efisien lagi. Dapat dibayangkan
jika menggunakan AC biasa sangat banyak refrigerant yang harus digunakan.
Begitu pula dengan kerja kompresornya. Oleh karena itu sering kali sistem yang
digunakan adalah sistem Chiller.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Siklus
Refrigerasi
Siklus
refrigerasi adalah siklus kerja yang mentransfer kalor dari media bertemperatur
rendah ke media bertemperatur tinggi dengan menggunakan kerja dari luar sistem.
Secara prinsip merupakan kebalikan dari siklus mesin kalor (heat engine).
Dilihat dari tujuannya maka alat dengan siklus refrigerasi dibagi menjadi dua
yaitu refrigerator yang berfungsi untuk mendinginkan media dan heat
pump yang berfungsi untuk memanaskan media. Ilustrasi tentang refrigerator
dan heat pump dapat dilihat pada gambar di bawah.
![]()
Siklus refrigerasi
dapat diklasifikasikan sebagai berikut,
1. Siklus kompresi uap (vapor
compression refrigeration cycle) dimana refrigeran mengalami proses
penguapan dan kondensasi, dan dikompresi dalam fasa uap.
2. Siklus gas (gas refrigeration
cycle), dimana refrigeran tetap dalam kondisi gas.
3. Siklus bertingkat (cascade
refrigeration cycle), dimana merupakan gabungan lebih dari satu siklus
refrigerasi.
4. Siklus absorpsi (absorption
refrigeration cylce), dimana refrigeran dilarutkan dalam sebuah cairan
sebelum dikompresi.
5. Siklus termoelektrik (thermoelectric
refrigeration cycle), dimana proses refrigerasi dihasilkan dari mengalirkan
arus listrik melalui 2 buah material yang berbeda.
6. Kinerja suatu refrigerator
dan heat pump dinilai dari besarnya koefisien kinerja (coefficient of
performance COP) yang didefinisikan sebagai berikut,
![]()
Harga COPR dan COPHP
umumnya lebih besar dari satu dimana COPHP = COPR + 1
untuk suatu rentang tekanan kerja yang sama.
1.1 Siklus Refrigerasi Kompresi Uap Ideal
Gambar di
bawah-kiri menunjukkan siklus refrigerasi kompresi uap ideal secara skematis.
Di sini refrigeran dalam kondisi uap jenuh masuk ke kompresor dan keluar
sebagai uap panas lanjut. Refrigeran kemudian masuk ke kondenser untuk melepas
kalor sehingga terjadi kondensasi sampai ke kondisi cairan jenuh. Keluar
kondenser refrigeran masuk ke katup ekspansi untuk menjalani proses pencekikan
(throttling) sehingga mengalami penurunan tekanan dan berubah menjadi
campuran jenuh. Proses terakhir ini bisa juga diganti dengan sebuah turbin
isentropis untuk menaikkan kapasitas pendinginan dan menurunkan kerja input
(dengan kompensasi kompleksnya sistem). Selanjutnya refrigeran masuk ke
evaporator untuk menyerap kalor sehingga terjadi proses evaporasi dan siap
untuk dilakukan langkah kompresi berikutnya.
![]()
Siklus
refrigerasi kompresi uap ideal dapat digambarkan dalam diagram T-s
seperti gambar di atas-kanan. Proses-proses yang terjadi adalah,
1-2 : Kompresi isentropis dalam kompresor
2-3 :
Pembuangan kalor secara isobaris dalam kondenser
3-4 :
Throttling dalam katup ekspansi atau tabung kapiler
4-1 :
Penyerapan kalor secara isobaris dalam evaporator
Persamaan
energi untuk komponen-komponen refrigerator bisa dituliskan sebagai berikut:
dimana diasumsikan perubahan energi
kinetik dan potensial bisa diabaikan.
Dari
notasi-notasi pada gambar di atas maka COPs dapat dituliskan sebagai berikut:
![]()
di mana
2.2 Prinsip
Dasar Pendingin Udara
Pada dasarnya prinsip kerja
pendingin air atau air-cooled chiller sama seperti sistem pendingin yang lain
seperti AC dimana terdiri dari beberapa komponen utama yaitu evaporator,
kondensor, kompresor serta alat ekspansi. Pada evaporator dan kondensor terjadi
pertukaran kalor. Pada air-cooled
chiller terdapat air sebagai refrigeran sekunder untuk mengambil kalor dari
bahan yang sedang didinginkan ke evaporator. Air ini akan mengalami perubahan
suhu bila menyerap kalor dan membebaskannya di evaporator.
Secara umum prinsip kerjanya adalah
sebagai berikut. Refrigeran didalam kompresor dikompresikan kemudian dialirkan
ke kondensor. Refrigeran yang mengalir ke kondensor mempunyai tekanan dan
temperatur yang tinggi. Di kondensor refrigerant didinginkan oleh udara luar
disekitar kondensor sehingga terjadi perubahan fase dari uap menjadi cair. Kemudian refrigeran mengalir menuju pipa kapiler dan terjadi
penurunan tekanan. Setelah
keluar dari pipa kapiler, refrigerant masuk ke dalam evaporator. Di dalam
evaporator refrigeran mulai menguap, hal ini disebabkan karena terjadi
penurunan tekanan yang mengakibatkan titik didih refrigeran menjadi lebih
rendah sehingga refrigeran menguap. Dalam evaporator terjadi perubahan fase
refrigeran dari cair menjadi uap. Pada evaporator ini terjadi perpindahan kalor
yang bersuhu rendah, dimana air didinginkan oleh refrigeran. Kemudian
refrigeran dalam bentuk uap tersebut dialirkan ke kompresor kembali.
Di dalam evaporator, air sebagai
bahan pendingin sekunder yang telah didinginkan sampai temperatur tertentu
kemudian dialirkan oleh sebuah pompa menuju koil-koil pendingin dalam ruangan.
Air ini akan bersirkulasi terus menerus selama sistem pendingin bekerja.
• 1 – 2 Merupakan
proses kompresi adiabatik dan reversibel, dari uap jenuh menuju ke tekanan
kondensor.
• 2 – 3 Merupakan proses pelepasan kalor reversible pada
tekanan konstan, menyebabkan penurunan panas lanjut (desuperheating) dan pengembunan refrigerasi.
• 3 – 4 Merupakan
proses ekspansi unreversibel pada entalpi konstan, dari fase cair jenuh menuju
tekanan evaporasi.
• 4 – 1 Merupakan
proses penambahan kalor reversible pada tekanan konstan yang menyebabkan
terjadinya penguapan menuju uap jenuh.
![]()
Daur Kompresi Uap Aktual
Daur kompresi uap yang sebenarnya
(aktual) berbeda dari siklus standard (teoritis). Perbedaan ini muncul karena
asumsi – asumsi yang ditetapkan dalam
siklus standar. Pada siklus aktual terjadi superheat atau pemanasan lanjut uap
refrigeran yang meninggalkan evaporator sebelum masuk ke kondensor. Pemanasan
lanjut ini terjadi akibat tipe peralatan ekspansi yang digunakan atau dapat
juga karena penyerapan panas dijalur masuk
(suction line) antara evaporator dan kompresor. Pemanasan lanjut yang terjadi pada evaporator juga merupakan
sesuatu yang menguntungkan karena
peristiwa ini dapat mencegah refrigeran yang masih dalam fase cair memasuki
kompresor. Begitu juga dengan refrigeran cair
mengalami subcooling pendinginan lanjut atau bawah dingin sebelum
masuk katup ekspansi atau pipa kapiler.
Pendinginan lanjut yang terjadi pada kondensor merupakan peristiwa yang normal dan menguntungkan karena dengan
adanya proses ini maka refrigeran yang memasuki
katup ekspansi seluruhnya dalam keadaan cair, sehingga menjamin
efektifitas alat ini.
![]()
Perbedaan yang penting antara daur
nyata (aktual) dan standar terletak pada penurunan tekanan didalam kondensor
dan evaporator. Daur standar dianggap tidak mengalami penurunan tekanan pada
kondensor dan evaporator, tetapi pada
daur nyata terjadi penurunan tekanan karena adanya gesekan antara refrigeran
dengan dinding pipa. Akibat dari
penurunan tekanan ini, kompresi pada titik 1 dan 2 memerlukan lebih banyak
kerja dibandingkan dengan daur standar.
2.3 Refrigeran
Dalam sistem
refrigerasi, refrigeran yang ideal minimal mengikuti sifat- sifat :
1.Tekanan Penguapan positif
Tekanan penguapan
positif mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran udara kedalam sistim selama
selama operasi.
2.Tekanan pembekuan yang cukup rendah.
3. Suhu pembekuan harus cukup
rendah, agar pemadatan refrigerant tidak terjadi selama operasi normal.
4.Daya larut minyak pelumas
Minyak yang digunakan
sebagai pelumas dalam refrigerator, terutama pada sistim, harus mudah larut,
karena bersentuhan langsung dengan refrigeran.
5.Refrigeran yang murah.
6.Tidak mudah terbakar.
Uap refrigeran tidak
boleh terbakar atau mengakibatkan kebakaran pada setiap konsentrasi dengan
udara.
7.Mempunyai tekanan kondensasi yang tidak
terlalu tinggi, karena dengan tekanan kondensasi yang tinggi memerlukan
kompresor yang besar dan kuat, juga pipa-pipa harus kuat dan kemungkinan
terjadinya kebocoran sangat besar.
8.Kekuatan dielektrik yang tinggi.
Sifat ini penting untuk
kompresor hermetik, karena uap refrigeran berhubungan langsung dengan motor.
9.Mempunyai struktur kimia yang stabil,
tidak boleh terurai setiap kali dimampatkan, diembunkan, dan diuapkan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Chiller
Fungsi Chiller dalam sistem tata udara adalah mendinginkan
media air,dimana air disinggungkan pada bagian evaporator chiller. Air kemudian dialirkan ke AHU
(Air HandlingUnit) untuk diambil dinginnya dan dihembuskan ke ruangan. Pada
Chiller terdapat beberapa parameter yang menunjukkan unjuk kerjanya,
antara lain; suhu air masuk (inlet) ke evaporator dan suhu air keluar
(outlet) dari evaporator, tekanan discharge, serta tekanan suction.
Dengan pembacaan suhu inlet dan outlet maka dapat ketahui kapasitas atau
kemampuan chiller untuk mendinginkan air. Pembacaan tekanan discharge dan tekanan suction untuk
mengetahui konsumsi refrigerator pada chiller tersebut dan juga untuk
mengetahui apabila terjadi kekurangan atau kelebihan tekanan akibat adanya anomali
tertentu.
1. CHILLER (unit
pendingin). Chiller adalah mesin
refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya
didistribusikan ke mesin penukar kalor ( FCU/Fan Coil Unit ). Jenis chiller didasarkan pada jenis kompressornya:
·
Reciprocating
·
Screw
·
Centrifugal
Jenis chiller
didasarkan pada jenis cara pendinginan kondensornya :
a.
Air Cooled Chiller,
yaitu chiller yang menggunakan udara sebagai media pendingin kondensernya.
Contoh gambar Air
cooled Chiller :
b.
Water Cooled chiller,
yaitu chiller yang menggunakan air sebagai media pendingin kondensernya
Contoh gambar Water
cooled Chiller :
Prinsip kerja dari
mesin Water chiller ini adalah mendinginkan suatu media yang menghasilkan panas dengan cara di aliri air yang dingin,
sehingga melalui air ini panas bisa di redam sesuai dengan kemampuan
mesin & temperature yang diharapkan.
Air dingin dari mesin
Water chiller ini di pompa menuju media yang di dinginkan, seperti Matras Mesin moulding, Transformator,
SCR Tig Welding Dll. setelah melewati Media yang
dikehendaki, air kembali menuju ke
bak pendinginan untuk di dinginkan oleh evaporator. Setelah didinginkan dalam bak
oleh evaporator, air kembali di pompa menuju media yang dikehendaki, begitulah singkat proses dari kerja water chiller ini.
Water chiller mulai dengan cairan dijalankan melalui kompresor, yang
menyebabkan cairan untuk bepergian bersama sistem perpipaan dan menyerap panas dari sumber
yangdikehendaki. Hal ini kemudian
pergi ke evaporator, di mana ia berubah menjadi gas dan menyebarkan panas ke
atmosfer. Kemudian berjalan melalui kondensor, yang mengubah kembali menjadi cair dan mengirimkannya kembali ke
kompresor. Perangkat metering digunakan
untuk mengatur aliran air dan suhu
kontrol. Siklus kompresi uap dapat menangani sampai dua ratus ton cairan pada satu waktu, dan dapat
mendinginkan mesin besar atau kondisioner rumah tangga tunggal udara.
3.2 Chilled Water dan Cooling Water
3.2.1 Chilled Water
Untuk
mendinginkan udara dalam gedung, chiller tidak langsung mendinginkan udara
melainkan mendinginkan fluida lain (biasanya air) terlebih dahulu. Setelah air tersebut dingin kemudian air dialirkan melaui AHU (Air Handling
Unit). Di sinilah terjadi pendinginan
udara. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 1.
![]()
Gambar
1. Skema Chiller
Chiller dapat
dibuat dengan prinsip siklus refrigerasi kompresi uap atau sistem absorbsi.
Dalam tulisan ini yang dibahas adalah chiller yang menggunakan sistem
refrigerasi kompresi uap. Sistem refrigerasi yang digunakan dalam chiller tidak
jauh berbeda dengan AC biasa, namun perbedaannya adalah pertukaran kalor pada
sistem chiller tidak langsung mendinginkan udara.
Pada evaporator terjadi penarikan
kalor. Heat Exchanger disini mungkin berupa pipa yang didalamnya
terdapat pipa. Di pipa yang lebih besar mengalir air sedangkan pipa yang lebih
kecil mengalir refrigeran (bagian evaporator siklus refrigerasi). Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat Gambar 2.
![]()
Gambar 2.
Penampang Heat Exchanger Chiller
Di Heat
Exchanger tersebut terjadi pertukaran kalor antara refrigeran yang dengan
air. Kalor dari air ditarik ke refrigeran sehingga setelah melewati Heat
exchanger air menjadi lebih dingin. Air dingin ini kemudian dialirkan ke
AHU (Air Handling Unit) untuk mendinginkan udara. AHU terdiri dari Heat
exchanger yang berupa pipa dengan kisi-kisi di mana terjadi
pertukaran kalor antara air dingin dengan udara.
Air dingin yang
telah melewati AHU suhunya menjadi naik karena mendapatkan kalor dari udara.
Setelah melewati AHU air akan mengalir kembali ke Chiller (Bagian Evaporator)
untuk didinginkan kembali.
3.2.2 Cooling Water
Seperti
dijelaskan sebelumnya dalam chiller juga terdapat perangkat refrigerasi yang
sistemnya terdapat bagian yang menarik kalor dan membuang kalor. Dalam hal
pembuangan kalor sering kali chiller menggunakan perantara air untuk media
pembuangan kalornya. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 3.
Gambar
3. Skema Cooling water dengan Cooling Tower
Hampir sama
dengan Chilled water, pertukaran kalor chiller pada kondensernya juga melalui
perantara air. Air dialirkan melalui kondenser. Kondenser ini juga merupakan Heat
exchanger berupa pipa yang didalamnya terdapat pipa. Pipa yang lebih besar
untuk aliran air dan pipa yang lebih kecil untuk aliran refrigeran. Di Heat
exchanger ini terjadi pertukaran kalor dimana kalor yang dibuang kondenser
diambil oleh air. Akibatnya air yang telah melewati kondenser akan menjadi
lebih hangat. Kemudian air ini dialirkan ke cooling tower untuk didinginkan
dengan udara luar. Setelah air ini menjadi lebih dingin, kemudian dialirkan
kembali ke kondenser untuk mengambil kalor yang dibuang kondenser.
Jadi di dalam sistem Chiller yang
dijelaskan diatas dapat dijadikan satu kesatuan sistem yang terdiri dari tiga
buah siklus, yaitu: siklus refrigerasi (Chiller), Siklus Chilled Water, dan
siklus Cooling Water. Untuk menjelaskan hal ini dapat dilihat gambar 4.
Gambar
4. Skema Chiller, Chilled Water dan Cooling Water
3.2.3 Contoh Soal
Refrigerator
menggunakan refrigeran R-12 dan beroperasi dengan siklus kompresi uap ideal
antara 0,14 dan 0,8MPa. Apabila laju massa refrigeran 0,05kg/s, tentukan (a)
laju kalor dari ruangan yang didinginkan dan kerja kompresor, (b) laju kalor
yang dibuang ke lingkungan, (c) COP
Solusi
Dari tabel Refrigeran-12 (Tabel
A-11~A13)
Kondisi 1 (uap jenuh) :
![]()
Kondisi 2 (uap panas lanjut) :
![]()
Kondisi 3 (cairan jenuh) :
Kondisi 4 (campuran jenuh) :
(a) Laju kalor yang diserap dari
media yang didinginkan:
Kerja
kompresor:
(b) Kalor yang dibuang ke
lingkungan:
(c) Coefficient of Performance:
BAB 1V
KESIMPULAN
1. Chiller
adalah alat refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan suatu bangunan, biasanya
bangunan yang besar , seperti mall, hotel, rumah sakit dll. Chiller dan AC (air
conditioner) berbeda, meskipun memiliki fungsi yang sama sebagai pendingin
ruangan. Perbedaannya terletak pada media yang didinginkan, AC akan langsung
mendinginkan udara didalam ruangan yang akan dikehendaki. Sedangkan chiller
mendinginkan air, yang kemudian air dingin ini digunakan untuk mendinginkan
ruangan.
2. Berdasarkan
jenisnya, chiller dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
A.Chiller berpendingin
udara (Air-cooled)
b. Chiller berpendingin
air (water-cooled).
3. Perbedaan
mendasar dari keduanya terletak pada media pendingin yang digunakan untuk
mendinginkan condenser. Pada air-cooled chiller media pendingin berupa udara langsung yang dibantu dengan induced draft fan atau hisap penghisap.
Sedangkan pada water-cooled chiller media pendingin condenser berupa air yang
disirkulasikan menuju tower pendingin (cooling tower).
Untuk
beban pendinginanyang lebih besar, seperti gedung bertingkat, pemakaian
water-cooled chiller lebih disarankan. Sedangkan untuk beban yang lebih kecil,
air-cooled dapat digunakan. Tetapi semua terkandung kondisi lapangan,
water-cooled chiller selain membutuhkan banyak pompa dan ssuplai air yang
cukup, juga membutuhkan ruang yang lebih luas untuk membangun tower pendingin.
|















Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung Ke Blogger Victoria Pbg